Sinopsis

Bagi komunitas adat Sasak, Cilokaq bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan ruang untuk berekspresi dan membangun identitas yang pernah berjaya pada era VCD. Sebagai anggota generasi kedua dari kelompok Cilokaq Slemor Ate Jelantik, Ojan memanfaatkan ruang digital untuk menghidupkan kembali musik tradisional ini dalam bentuknya yang paling murni di tengah lanskap industri modern yang dibentuk oleh algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (AI).

Judul

Ramu Irama

Judul Internasional

The Creator

Durasi

1.15.11

Kategori

Documentary

Format

Digital

Aspek Rasio

16:9

Tahun Produksi

2025-2026

Lokasi

Lombok, NTB

Produksi

Mata Nusantara

Sutradara

Fachrudin Jabrig

Juru Kamera

Rido Siregar, Batara Tambing

Fotografer

Fachrudin Jabrig

Produser

Mina Setra, Marolop Manalu, Eko Krisna

Didukung Oleh

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)

Pernyataan Sutradara

Setiap kali mendengar berita atau menyaksikan film tentang tradisi yang ditinggalkan, ada rasa gelisah yang selalu mengusik jiwa. Apakah masih ada orang yang sudi bertahan dan bertarung agar warisan ini tidak menjadi dongeng? saya menolak untuk menyerah pada narasi kekalahan itu. Saya tidak ingin menjadi penonton yang meratapi kepunahan. Saya tergerak untuk mencari, mengenal, dan merayakan mereka yang memilih bertahan—para ‘pejuang’ yang menolak membiarkan identitas budayanya lenyap digilas waktu,
Pertemuan saya dengan Ojan dan perjalanan musik Cilokaq adalah jawaban atas kegelisahan itu.

Lombok hari ini berkembang pesat, begitu pula lanskap seni modernnya. Di tengah gelombang perubahan ini, timbul sebuah pertanyaan krusial yang mengusik saya: Apakah musik tradisi seperti Cilokaq masih menemukan relevansinya di era saat ini?
dimana zaman globalisasi yang terus bergrak cepat disokong Akal Imitasi (AI) dan diorkestrasi oleh mesin algoritma. tidak hanya disitu, pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana cara melestarikan musik tradisi seperti cilokaq ini? apakah mesin-mesin akal imitasi dan algoritma sosial media dapat melestarikanya bahkan hingga dapat menggantikan para seniman.

kami membangun film ini bersama Ojan yang seorang generasi kedua grup musik Slemor Ate Jelantik melakukan banyak perjalanan untuk menemukan jawaban dari problematika tersebut. Ojan tidak hanya berjuang mempopulerkan kembali Cilokaq yang pernah merajai musik lombok, tetapi juga mengajak kita berhenti sejenak untuk merenungi keinginan manusia yang serba cepat namun hampa, tentang kejujuran proses, kedalaman rasa dari sebuah karya, mencari jawaban pembeda manusia dengan akal Imitasi, dan menemukan cara untuk memperbaiki jiwa yang telah rusak.

CILOKAQ DAN ADAPTASINYA

Kesenian Cilokaq

Menurut berbagai sumber Cilokaq diambil dari salah satu nama atau judul lagu yang digemari pada saat itu. Namun pendapat yang lain mengatakan Cilokaq berasal dari kata Seloke, karena syair-syairnya dinamakan sloka (petuah).yang berarti pituah yang syairnya memberikan pesan atau nasihat kepada pendengarnya. Adapun penelitian yang menyatakan Lagu-lagu yang dimainkan dalam musik cilokaq ini disebut kaya. Kaya adalah lagu yang menggunakan nada non diatonik, yang sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan di pulau Lombok. Masing-masing desa mempunyai gaya kaya tersendiri, walaupun melodinya hampir sama, pengguna bahasa ibu pada Cilokaq menjadi ciri khas utamanya.

Perkembangan zaman terlebih dalam bidang musik membawa budaya lokal untuk ikut beradaptasi. Seperti halnya Cilokaq yang pada awalnya hanya menggunakan alat musik gambus tunggal yang digunakan untuk menghibur masyarakat yang sedang bekerja disawah, berkeliling dari panen ke panen lainya. kemudian berkembang dengan menggunakan alat musik seperti viul, Jidor, kecrik hingga suling dan mulai digunakan pada cara-acara masyarakat seperti sunatan atau pernikahan. Penggunaan sajak dan bahasa dalam musik Cilokaq juga mengalami perkembangan, berawal dari penggunaan syair puitis (Seloka) yang terdiri dari 4 baris dengan irama a-a-a-a serta lelakaq sebagai puisi dalam bentuk pantun, keduanya termasuk dalam sastra Sasak. Seloka dan Lelakaq menjadi dasar dalam syair Cilokaq namun dengan berkembangnya zaman membawa beberapa kelompok Cilokaq untuk menggunakan sajak bebas. antara lain berisi curahan hati, asmara, kesedihan, keceriaan, lingkungan serta kehidupan masyarakat Sasak. Berdasarkan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Barat,  sedikitnya terdapat 910 lagu berbahasa Sasak. Lagu-lagu tersebut bergenre Cilokaq, lagu Sasak yang diiringi bunyi rebana secara dominan.



Seni musik Cilokaq ini turut diadopsi dari budaya musik lainnya, seperti Bugis, Cina, dan Melayu sebagai dampak dari interaksi masyarakat kepulauan yang terbuka. Pada tahun 1948, cilokaq pertama kali dipergelarkan di Dusun Lengko’ Laki, Desa Sakra, Kabupaten Lombok Timur periode setelah masa penjajahan belanda berakhir. Pagelaran ansambel ini dipelopori oleh Mamiq Siranatih. Selanjutnya, seorang musisi keroncong bernama Lalu Sinarep memasukkan musik keroncong dan lagu-lagu lain ke dalam cilokaq.

Lagu-lagu yang dimainkan dalam musik cilokaq ini juga disebut kaya. Kaya adalah lagu yang menggunakan nada non diatonik, sehingga setiap desa memiliki gaya kaya yang khas, walaupun melodinya tampak serupa. Penamaan dari kaya ini juga pun sering kali disesuaikan dengan desa asalnya. Begitu juga dengan Grup musik Slemor Ate Jelantik, masyarakat jelantik yang menggunakan bahasa meriaq merikuq yang pada umumnya berkembang di wilayah Lombok Bagian tengah, meriaq merikuq memiliki kosakata, pelafalan, dan bentuk ungkapan kata majemuk yang berbeda dari dialek bahasa Sasak di wilayah lain yang kemudian memiliki teknik / cara bermain gambus yang berbeda.

Grup musik Slemor Ate Jelantik merupakan grup musik Cilokak yang lahir pada awal tahun 2000an, dan telah merilis album perdananya dengan berbagai judul lagu diantaranya; Penggugah Ate, Pengeling-iling, Buak Bile, Berembek Angen, Ngelai Desa, Anak Iwoq, Ate Sengsare,  dan Iroq Aseq yang banyak diCiptakan oleh Lalu Prawire S dan dipimpin oleh Lalu Zaenal Amin, dari grup inilah lalu Fauzan hakim belajar musik Cilokaq.



Foto

MATATA hadir sebagai mata yang mengamati Masyarakat Adat yang merupakan penjaga kearifan dan bumi. Mata Nusantara juga merupakan ruang kreatif untuk mengelola pengetahuan Masyarakat Adat melalui proses dokumentasi, produksi, penyebaran, dan pengarsipan audio visual.

Jl. Sempur No.58 RT.05/RW.01, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129

+62 852 1018 8909