Sinopsis
Selama tiga abad, Kasepuhan Karang Nunggal berhasil menjaga ketahanan pangan mereka dari segala krisis. Namun, ketika ancaman siklon tropis akibat perubahan iklim yang bersiap menerjang, komunitas adat ini untuk pertama kalinya menerima wangsit ganjil: mengiringi penanaman benih padi menggunakan tabuhan Angklung Buhun. Di saat cadangan lumbung pribadinya hanya cukup hingga musim panen berikutnya, sementara bayang-bayang badai kian mendekat, Huki, seorang pemuda adat, harus melintasi batas nalar untuk menemukan esensi petunjuk leluhur tersebut sebelum alam menghancurkan mereka.
Judul
Suara Yang Terdengar
Judul Internasional
Durasi
59.19
Kategori
Documentary
Format
Digital
Aspek Rasio
16:9
Tahun Produksi
2025-2026
Lokasi
Lebak, Banten
Produksi
Mata Nusantara
Sutradara
Fachrudin Jabrig
Juru Kamera
Fachrudin Jabrig, Batara Tambing
Fotografer
KHAIRUL ABDI
Produser
Mina Setra, Marolop Manalu, Eko Krisna
Didukung Oleh
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
Pernyataan Sutradara
Di tengah dunia yang hari ini terus diguncang oleh ancaman krisis pangan dan bencana ekologis, saya selalu diusik oleh sebuah kenyataan kontras: keberadaan komunitas adat Kasepuhan Karangnunggal yang mampu mempertahankan kedaulatan pangannya selama lebih dari tiga abad. Di saat peradaban modern selalu gagap dan bergulat hingga magakibatkan peperangan karena urusan perut, bagaimana mungkin masyarakat adat ini sanggup berdaulat begitu lama?
Kegelisahan inilah yang membawa saya untuk melangkah lebih jauh. Saya tidak ingin menjadi penonton pasif saat menyaksikan bagaimana krisis iklim nyata—yang direpresentasikan oleh ancaman siklon tropis—mulai menghantam masyarakat yang paling rentan. Saya merasa terpanggil untuk mencari tahu: apakah mereka yang paling rentan ini sejatinya memiliki jawaban atas krisis iklim melalui tatanan pengetahuan lokalnya sendiri?
Kesuksesan Kasepuhan Karang Nunggal menjaga kedaulatan pangan selama lebih dari tiga abad bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bukti keberadaan sains tradisional yang bekerja secara harmonis dengan alam. Namun, ketika perubahan iklim hadir mengancam, sebuah krisis nyata yang kerap gagal diselesaikan oleh pendekatan etnosentris sains modern yang dingin, komunitas ini diuji untuk memaknai ulang pengetahuan lokal mereka melalui wangsit yang tak biasa. Di sinilah Angklung Buhun hadir bukan sebagai sekadar “alat musik” atau ornamen pertunjukan budaya belaka, melainkan sebagai bentuk manifestasi sains kosmologis dan spiritualitas agraris Sunda. Penggunaan tabuhan Angklung Buhun saat menanam benih di tengah ancaman badai menjadi titik temu yang krusial: bahwa bagi Masyarakat Adat, alat musik ini adalah media komunikasi ekologis—sebuah jembatan spiritual yang menghubungkan manusia, benih, dan alam.
Kekacauan hari ini berakar dari jiwa-jiwa yang kian rapuh dan terasing dari alam. Ketika manusia modern kehilangan akar spiritualitasnya, sains dan kebudayaan sejatinya menunjuk pada satu obat pemulih yang sama: tatanan harmoni. Melalui Angklung Buhun, kita tidak sedang menyaksikan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah ritual penyembuhan ekologis. Getaran bambu dan pola permainan kolektifnya adalah teknologi purba yang secara biologis dan psikologis merajut kembali kesadaran manusia—mengajak jiwa yang kosong untuk kembali bergetar selaras dengan ritme alam semesta.
Melalui pencarian Huki, film ini membongkar keterjebakan kita yang sering melihat tradisi secara dangkal,
mendekonstruksi kembali cara kita memandang sains, tradisi, dan solusi iklim. bahwa di tengah ancaman krisis ekologi global yang kian dekat, jawaban yang kita cari mungkin tidak selalu berasal dari tempat yang jauh, bisa jadi jawabanya adalah diri jiwa kita sendiri.
ANGKLUNG BUHUN
Kasepuhan Karang Nunggal
Kasepuhan Karang Nunggal merupakan suatu wilayah Masyarakat Adat berada di provinsi Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cisolok. Kasepuhan Karangnunggal berada di wilayah dataran tinggi. Bertani bagi Masyarakat bukan hanya sebagai kebutuhan pangan namun juga menjadi suatu kepercayaan dan warisan dari leluhur yang diharuskan. Sedangkan menurut kepercayaan Masyarakat, Bertani dan tani merupakan hal yang berbeda, bertani merupakan kegiatan bercocok tanam, sedangkan tani diartikan sebagai merupakan cara hidup yang berfokus pada keberlangsungan pangan dan keseimbangan dengan alam.
Perubahan Iklim
Dalam proses bertani, iklim menjadi hal yang berpengaruh besar terhadap hasil pertanian. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya perubahan iklim yang drastis dari curah hujan yang tak menentu, peningkatan suhu, hingga angin kencang mengakibatkan hasil tani yang didapatkan setiap tahunnya mengalami fluktuasi yang tidak menentu.
Masyarakat Adat di Kasepuhan Karang nunggal memiliki pengetahuan perhitungan masa tanam atau yang dikenal dengan Pranata Mangsa, dimana menghitung masa tanam padi dengan membaca alam, posisi rasi bintang (palintangan), dan instruksi leluhur, bukan memakai kalender biasa. Namun, seiring terjadinya perubahan iklim memicu pergeseran curah hujan ekstrem, membuat pola leluhur ini sering meleset berakibat menurunkan produktivitas pertanian masyarakat.
Penghubung antara Manusia dan Alam
Masyarakat Kasepuhan Karang nunggal memiliki beragam kesenian, termasuk musik tradisi, bukan hanya sebagai medium ekspresi bagi masyarakat musik dipercaya sebagai salah satu cara menjaga hubungan antara manusia dengan alam. Musik digunakan sebagai infrastruktur penghantar doa atau ritual, seperti halnya ketika pelaksanaan penanaman padi untuk pertama kalinya harus diiringi dengan tabuhan Angklung Buhun, Cilempung, sanari dan kolecer (kincir Angin), Bunyi tersebut dipercaya sebagai penghibur dan teman dalam proses pertumbuhan padi. Bunyi ritmis repetitif dari angklung tersebut adalah bentuk doa kosmologis—sebuah getaran suara yang dipercaya “mendinginkan” bumi yang sedang marah (mengalami bencana/paceklik).
Angklung Buhun
Bunyi-bunyian bambu memiliki arti filosofis sendiri bagi Masyarakat Karangnunggal, bambu bukan hanya suatu bahan baku melainkan “Wiwitan” yang memiliki pengertian sebagai permulaan atau asal mula suatu kehidupan. Salah satu alat musik yang menggunakan bambu adalah Angklung Buhun. Berbeda dengan angklung modern dan yang sering dipelajari saat sekolah, angklung ini dibuat menggunakan bahan bambu yang dipilih secara khusus karena tidak sembarang bambu dapat digunakan. Penebangan bambu pun dipercayai paling baik dilakukan pada bulan Agustus ketika kandungan air dan gula di dalam bambu sedang berkurang sehingga lebih awet dan tidak mudah dimakan hama. Filosofi tersebut tidak berhenti pada saat mencari bahan namun juga saat memainkan Angklung Buhun itu sendiri, goyangan maju-mundur saat memainkan memiliki arti sendiri yaitu kehidupan manusia yang harus selalu melihat masa lalu dan masa depan secara seimbang, Para peneliti etnomusikologi mencatat bahwa bagi masyarakat komunal, getaran suara bambu adalah cara mereka menyelaraskan frekuensi spiritual manusia dengan pertumbuhan padi (Nyi Pohaci) dan siklus alam.
MATATA hadir sebagai mata yang mengamati Masyarakat Adat yang merupakan penjaga kearifan dan bumi. Mata Nusantara juga merupakan ruang kreatif untuk mengelola pengetahuan Masyarakat Adat melalui proses dokumentasi, produksi, penyebaran, dan pengarsipan audio visual.
Jl. Sempur No.58 RT.05/RW.01, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129
+62 852 1018 8909










